Selasa, 30 Maret 2010

Coban Jahe

Air terjun Coban Jahe ada di pedukuhan Begawan, desa Pandansari Lor, kecamatan Tumpang, kabupaten Malang, masuk dalam wilayah pengolahan KPH Perhutani Sukopuro-Jabung. Letaknya tersembunyi diantara bukit-bukit yang tersebar sepanjang jalan keluar dari pedukuhan Begawan. Jalan yang membelah kawasan ini merupakan jalan aspal yang sudah berlubang-lubang dengan tingkat kemiringan yang cukup menanjak, sekitar 45 derajat. Saat musim kemarau terasa kering dan terik tapi akan terhibur dengan area persawahan dan perbukitan yang menghijau apalagi ketika sudah melewati pedukuhan Begawan, sepanjang jalan mengalir sungai yang jernih dan perkebunan ubi yang lebat.

Sekilas dari namanya, tentu yang terbesit adalah nama air terjun atau coban yang diambil dari salah satu rempah-rempah yang sangat terkenal di zaman Hindia-Belanda yaitu jahe. Namun siapa sangka di balik jawaban yang ternyata salah itu, nama ‘Jahe’ adalah nama untuk mengenang perjuangan pahlawan kemerdekaan RI sekitar tahun 1947-1948. Nama Jahe, sebenarnya diambil dari Bahasa Jawa ‘Pejahe’ yang berarti meninggal dunia. Nama itu muncul, setelah sekitar satu regu tentara (TNI, sekarang) di bawah komando Ali Murtopo melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Hanya saja, perjuangan itu harus berakhir dengan diluluh-lantakkannya perbukitan di sekitar pintu masuk Coban Jahe dengan bom-bom yang dilontarkan dari atas pesawat. Mereka yang tewas karena tembakan bom ini, dibiarkan begitu saja oleh Belanda. Sebaliknya, warga sekitarlah yang kemudian mengumpulkan jenazah yang saat itu meninggal dimana-mana untuk dikebumikan. Seiring bergantinya waktu, nama ‘Pejahe’ pun lama kelamaan berganti Jahe. Begitu juga nama makam, mereka yang dikebumikan pun dibuatkan tempat peristirahatan terakhir bernama Makam Pahlawan Kali Jahe. Keberadaan Makam Pahlawan Kali Jahe sendiri, bisa dijumpai sekitar 50 meter, sebelum pintu masuk Coban Jahe. Di sisi kanan jalan sekitar makam, berdiri pembatas sederhana berukuran segi empat yang di tengahnya terdapat sebuah tugu. Di pintu masuk yang menghadap ke jalan itu pula, bisa dijumpai sebuah nama makam Pahlawan Kali Jahe. “Karena keberadaan makam sangat jauh dari keramaian, sekitar tahun 1994-1995, makam itu berusaha dipindahkan. Hanya saja, seolah-olah mereka yang sudah dikebumikan di Makam Pahlawan Kali Jahe itu, tidak mau. Sehingga, mobil yang akan mengangkut sisa tulang atau jenazah pahlawan itu, tiba-tiba tidak mau berjalan atau mogok,” kata Mudi, petugas Perhutani RPH Sukopuro, Kecamatan Jabung, sehingga akhirnya pemindahan itu batal dilakukan.
Air terjun Coban Jahe menyuguhkan kealamian alamnya sekaligus menghadirkan tantangan bagi pengunjungnya. Datang kesini, anda akan dibuat terkesima dengan kondisi alam sekitarnya. Maklum, di sekitar kawasan air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 40 meter hingga 45 meter itu, dedaunan dan rerumputan dibiarkan tumbuh bebas. Sehingga tidaklah heran bila bebatuan licin dan rerimbunan tanaman bisa dijumpai di sekitar derasnya deburan air. Tak hanya itu, di setiap sisi air terjun bisa dijumpai pula cadas-cadas berukuran raksasa memperkokoh kondisi Coban Jahe. Sementara di sisi lainnya bebukitan hijau menjulang tinggi.  Kealamian lain yang bisa dinikmati adalah akses jalan menuju ke lokasi yang masih dalam kawasan Perhutani RPH Sukopuro-Jabung. Dari pintu masuk Coban Jahe, pengunjung akan mendapati jalan setapak berupa tanah liat. Sementara sekitar 100 meter dari pintu masuk ke arah air terjun, juga akan didapat hamparan tanah kosong yang oleh pengunjung biasanya dimanfaatkan untuk memarkir motor yang dibawa. Di sekitar lokasi ini, pohon Mahoni cukup banyak dan rindang untuk semakin menambah suasana kesejukan alam Coban Jahe. (diambil dari http://www.malangpost.com).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar