Senin, 29 Maret 2010

Coban Pelangi

Tak salah bila Kabupaten Malang mendapat julukan sebagai daerah tujuan wisata utama di Provinsi Jawa Timur. Berkunjung ke zona wisata di Kabupaten Malang berarti telah menjejaki Truly East Java. Salah satu bentang alam yang menyuguhkan panorama menakjubkan, berada nun jauh di ujung timur wilayah Kabupaten Malang yakni Kecamatan Poncokusumo. Wilayah Poncokusumo yang memiliki 17 Desa/ kelurahan itu berada di kaki Gunung Semeru (3676 Mdpl), gunung tertinggi di Pulau Jawa. Bentang pegunungan Semeru menyuguhkan pesona alam yang paling menakjubkan di Pulau Jawa. Aliran sungai yang mengalir diantara gunung gemunung, akhirnya menciptakan air terjun yang amat elok, Coban (air terjun) Pelangi. Jika pernah mendengar nama Coban Trisula, maka Coban Pelangi merupakan zona wisata alam andalan di Kecamatan Poncokusumo yang masih berada satu kawasan dengan Coban Trisula. Air terjun itu berada di jalur menuju Gunung Bromo dan Semeru itu, tepatnya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Obyek wisata Coban Pelangi merupakan zona konservasi alam dibawah perlindungan Perum Perhutani. Air terjun menakjubkan itu, berjarak ± 10 km dari Kecamatan Tumpang dan ± 32 km dari Kota Malang. Coban Pelangi berada di kawasan pegunungan bertopografi terjal dengan kemiringan diatas 45 % dan berada di ketinggian 1200-1400 Mdpl. Jika anda hendak berkunjung ke Gunung Bromo, tiada salahnya mampir sejenak di Coban Pelangi. Usai melewati Desa Gubuk Klakah, akan nampak plang besar bertuliskan Coban Pelangi di sisi kanan jalan. Parkir kendaraan di depan pintu masuk, Rp 500 (roda 2) dan Rp 1000 (roda 4), tinggal melangkah menuju pintu masuk.
Wisata Murah
Area pintu masuk Coban Pelangi berada diatas tebing setinggi sekitar 100 meter. Untuk masuk area wisata alam, pengunjung membayar Rp 3100 per orang di loket masuk. Dengan tarif murah meriah itu, wisata alam Coban Pelangi bisa dinikmati sepuasnya. Akan tetapi, pada musim penghujan, pihak pengelola sengaja membatasi kunjungan hingga pukul 16.00. Maklum saja, secara tiba-tiba bisa muncul kiriman air melimpah dari pegunungan di bagian hulu. Meskipun, tidak pernah ada catatan korban dari air bah kiriman, pengelola tetap memasang plang himbauan.

Berkunjung ke Coban Pelangi, berarti harus mempersiapkan fisik dan kesehatan yang prima. Jangan dibayangkan, lokasi Coban Pelangi seperti Coban Rondo di Kecamatan Pujon. Tentu berbeda, Coban Pelangi masih sangat alami, untuk menikmati air terjun, pengunjung harus membayar dengan keringat. Amat disarankan, pengunjung memakai alas kaki yang memadai untuk jarak tempuh sekitar 20 menit. Menuju air terjun, pengunjung memang wajib menjejaki medan berbukit dengan kemiringan mencapai sekitar 45 derajat. Usai melewati punggungan bukit selama sekitar 15 menit, selebihnya tinggal menyusur jalur diatas anak sungai. Selama perjalanan, alam menyuguhkan keelokan yang tiada tara, kontur pegunungan, hutan yang rimbun dan sungai yang jernih. Kicau burung-burung silih berganti, menjadi hiburan yang langka. Tak usah khawatir soal makanan dan minuman, di sepanjang perbukitan berjajar warung-warung dengan konsep alam.

Jembatan Cinta
Usai menikmati perbukitan dengan sudut kemiringan 45 derajat, saatnya perjalanan mencapai bibir sungai. Di ujung bukit, membentang sebuah jembatan berbahan dasar bambu, yang disusun sedemikian rupa. Jembatan itu hanya cukup dilewati dua orang. Bagi muda-mudi, jembatan itu bisa disebut sebagai jembatan cinta. Mau tak mau, pasangan yang tengah berpacaran pasti akan bergandeng tangan saat memasuki ujung jembatan. Gemericik air di bebatuan serta kicau burung-burung, memang menimbulkan suasana romantis. Capek berjalan kaki, sebuah pondok peristirahatan di bibir sungai bisa membantu menormalkan nafas. Pondok yang terletak sekitar 10 meter dari jembatan bambu itu berada di bawah rimbun pepohonan. Dari pondok itu, Air terjun cukup ditempuh sekitar lima menit.

Pelangi Di Atas Tebing
Air terjun Coban Pelangi mengalir dari tebing yang memiliki ketinggian 110 meter. Pesona air terjun itu bisa dinikmati sambil menggelar tikar di atas zona lapang yang telah disiapkan pengelola. Satu pondok perlindungan juga disiapkan menghadap ke arah air terjun. Jika cuaca sedang baik, pengunjung yang beruntung bisa menyaksikan ’Pelangi’ yang membiaskan di pucuk-pucuk tebing. Biasanya, Pelangi muncul pada jam 10 pagi sampai jam 2 siang. Fenomena alam itu muncul akibat butiran air terjun yang terbawa angin, serupa buliran-buliran kabut. Jika masih belum puas menyaksikan dari zona lapang, mencelupkan diri di anak sungai bisa menjadi pilihan menarik. Namun, tentu saja, pengunjung harus menyiapkan pakaian ganti. Tumpahan air terjun diatas bebatuan menimbulkan percikan air seperti hujan gerimis.


Dilengkapi Ojek Kuda
Jarak tempuh yang cukup lumayan menuju air terjun Coban Pelangi akan disiasati oleh Pemerintah Desa Ngadas. Menurut Koordinator Wisata Coban Pelangi, Gatot Aryo, membuka ojek kuda itu dilontarkan oleh Kepala Desa Ngadas Kartono. Persewaan kuda itu akan disediakan warga Ngadas, dengan besaran sewa yang terjangkau. ”Masih kita usulkan, rencana ini cukup bagus,” katanya. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Malang Ir. Purnadi mendukung rencana itu. Purnadi menilai ide itu cukup tepat diterapkan di Coban Pelangi. Pemkab Malang mendorong pihak Perhutani untuk menyetujui rencana pihak Pemerintahan Desa Ngadas tersebut. ”Kita mendukung sekali, itu bagus, Dinas nanti akan bertugas mencari investor untuk hotel dan lain-lain,” tegas Purnadi. Jika bisa dikembangkan, ojek kuda sebenarnya tak melulu menempuh jalur Coban Pelangi. Pihak pengelola boleh saja menawarkan rute berkuda melewati wisata agro Apel di Desa Gubuk Klakah. Kalau masih kurang, wisata agro di Desa Ngadas juga menjadi alternatif terbaik. Selain kental dengan budaya pertanian tradisional, wraga Ngadas masih menjaga tradisi setempat. Semisal tradisi Unan – unan atau (Ngarak Ndase Kebo) arti dalam bahasa Indonesia yaitu mengiring kepala hewan kerbau. Kegiatan ini dilakukan sekali dalam 8 tahun (sewindu). Kekayaan budaya lainnya banyak dimiliki warga Ngadas, Nyewu atau entas-entas berupa selamatan 1.000 harinya orang meninggal. Acara tersebut tidak diperlukan undangan karena hampir seluruh warga Kampung Ngadas memiliki hubungan darah. Malah tiga bulan sekali, diadakan pengecekan bagi seluruh perempuan/gadis yang belum menikah untuk diperiksa guna mengetahui kehamilan. Jika ada gadis desa yang hamil maka akan langsung dinikahkan. Ini bertujuan untuk antisipasi adanya perzinahan. (ary/mar/malangpost).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar