Selasa, 30 Maret 2010

Coban Talun

Coban Talun terletak tidak jauh dari pinggiran jalan raya yang menuju ke Taman Hutan Raya R. Suryo dan pemandian air panas Cangar, tepatnya di desa Junggo, kecamatan Bumiaji, kota Batu. Dari bibir jalan menuju lokasi berjarak sekitar 2 km, 1 km menuju gerbang wisata adalah jalan berbatu dan 1 km lagi menuju lokasi wisata.adalah jalan tanah dan rumput. Parkir kendaraan berada di dekat gerbang wisata yang merupakan rumah penduduk, selanjutnya perjalanan bisa dilakukan dengan jalan kaki.


Sebenarnya lokasi wisata ini sudah ditutup oleh pemerintah kota Batu sejak tahun 2006. Penutupan ini berkaitan dengan tewasnya seorang pelajar akibat tertimpa tumbangnya pohon pinus. Memang penutupan ini awalnya sementara, dapat dilihat dari papan pengumuman di dekat pintu gerbang yang tertulis ‘ DITUTUP SEMENTARA’ dengan alasan sedang dilakukan pendataan pepohonan dalam kawasan wisata yang rawan tumbang, namun sampai beberapa tahun ke depan ternyata pengumuman tersebut belum juga diturunkan. Akibat dari penutupan ini, sekarang Coban Talun seperti tak terawat, loket masuk tidak ada alias gratis, warung-warung yang dulu menjual aneka makanan sekarang kosong tak berpenghuni, rumput-rumput liar bertumbuhan dimana-mana.dan jalan menuju lokasi air terjun kondisinya banyak yang rusak. Walaupun demikian Coban Talun masih sering dikunjungi oleh wisatawan untuk menikmati keindahan air terjun, sungai, bukit-bukit dan hutan pinusnya.
Air terjun Coban Talun bersandar ditepi tebing setinggi 75 meter, debit airnya tidak terlampau deras, kemudian jatuh ke bawah menelusuri sungai yang berkelok-kelok dengan batu-batuan besar yang bertebaran dimana-mana. Air terjun ini sangat indah dilihat dari jarak jauh ataupun dekat. Saat berada beberapa meter dari lokasi jatuhnya air, selain gemuruh suara benturan air dengan batu cadas, sensasi semburan butiran air juga membuat tubuh terasa dingin dan menyegarkan. Dari jarak agak jauh, suara gemuruhnya sedikit berkurang tapi butiran air masih bisa menerpa tubuh bersamaan dengan datangnya hembusan angin yang bergerak pelan. Dari sini kita juga bisa melihat semburat pelangi diantara air terjun dan bebatuan. Pemandangan pelangi berwarna warni itu tidak hanya diketemukan pada satu titik tapi hampir di setiap sudut pandangan mata.
Selain air terjun, di lokasi wisata ini anda juga akan menyaksikan keindahan kelokan sungai yang dangkal dengan yang jernih diantara bebatuan besar dan  bukit-bukit kecil dengan hutan pinusnya yang lebat kemudian ada juga bendungan, gua Jepang, dan camping ground yang terselip diantara hutan pinus. Bendungannya layak untuk dijadikan kunjungan. Jika suasana sedang mendukung, pengunjung bisa melintas di antara bendungan. Momen ini akan menjadi peristiwa yang sulit untuk dilupakan. Tapi sayang untuk area camping ground, sekarang hutan pinusnya sudah dibabat habis, hanya tinggal padang rumput yang menghijau. Pembabatan ini berkaitan dengan tragedi tewasnya pengunjung pada tahun 2006 akibat tertimpa pohon pinus. Karena tidak ada papan petunjuk di lokasi wisata ini, pengunjung sedikit kesulitan untuk menemukan area gua Jepang yang letaknya memang tersembunyi di antara batu-batuan besar dan hutan pinus.
Untuk mencapai kawasan ini memang tidak mudah. Selain dituntut kehati-hatian, juga diperlukan tenaga yang ekstra. Pengunjung harus melewati aliran sungai, dan menembus perbukitan yang tajam dan berkelok. Jalan setapak menuju lokasi sempit, licin dan sangat curam. Sementara di kiri kanan jalan setapak sepanjang  hampir 2 km ini dikelilingi oleh jurang. Sesekali harus berpegangan dahan dan rumput liar yang merimbuni jalanan setapak. Jadi tidak direkomendasikan untuk anak-anak, orangtua maupun ibu hamil. Tempat wisata ini hanya cocok untuk para pecinta alam, anak-anak muda dan mahasiswa megingat butuh perjuangan yang tidak mudah untuk mencapai lokasinya.
Para pecinta alam sering menginap di tempat ini. Mereka mendirikan tenda di area camping ground, menyaksikan keindahan alam saat matahari terbenam disela-sela bukit, menikmati kesunyian dan hawa dingin saat malam mulai menyergap - gelap dan hening, begitulah yang mereka rasakan, tidak ada tanda-tanda kehidupan di wisata alam yang dikelola Perum Perhutani tersebut, kemudian esoknya mereka bisa melihat terbitnya sang mentari yang menghangatkan bersamaan dengan kegiatan-kegiatan penduduk di daerah sekitar. Penduduk-penduduk itu mulai bergerak menyambut pagi yang penuh harapan, ada yang menyusuri hutan mencari kayu dan rumput, ke sawah bercocok tanam atau hanya sekedar ke sungai untuk mandi. Bagi para pecinta alam inilah kenikmatan sebuah perjalanan.  (by Roni Khoiron)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar